Selasa, 03 Juli 2012

[IM-HAN] Mendidik adalah tugas konstitusional Negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.

 “Mendidik adalah tugas konstitusional Negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”
Ceilahh omongannya berat bener sih
bukan bukan,itu bukan omongan yang keluar dari mulut saya.

 Itu tadi kalimat terakhir yang ditulis di halaman persembahan buku Indonesia Mengajar  dari om Anies Basuwedan, Ketua Indonesia Mengajar.
Ya, karena kemaren  saya akhirnya tertunda pergi ke semeru saya memutuskan buat maen maen ke toko buku. Dan alhasil sebagian uang yang harusnya buat pergi ke malang di alokasikan buat beli buku. Dapet dua buku deh: Indonesia Mengajar dan 9 Matahari. Oke mulai buka buka halaman buku Indonesia Mengajar, dan seperti biasa baru baca setengah saya udah pengen ini pengen itu. Iya buku ini isinya cerita pengajar pengajar muda yang udah mengabdi di pedalaman pedalamn Indonesia untuk ngajar anak anak SD. Dan sampailah di halaman yang isinya pengalaman waktu ngajar di Majene(saya gak tau majene itu di Indonesia bagian mananya ),eh ternyata itu di Sulawesi Barat ya. Dan dari sanalah mulailah saya….

“kayaknya keren ya bisa ngajar dipedalaman, di luar Pulau Jawa ”
“ngajar di Aceh Utara, Bengkalis, Tulang Bawang, Kapuas Hulu, Paser, Majene,Sangihe,Bima, Halmahera, Sangihe, atau sampai Fak Fak kalo  bisa”

Pada asing ya sama nama nama itu,? sama sih. Ternyata itu masih jadi satu NKRI loh, gak papa kok kalo belum pada tau, gih liat peta  Indonesia lagi sana.
Jadi, Aceh Utara dan Bengkalis itu masih bagian dari pulau Sumatra, Kapuas Hulu dan Paser itu ada di Kalimantan, Majene itu di Sulawesi, Halmahera dan Sangihe itu berada di Kepulauan Maluku, dan Fak Fak itu adanya di paling ujung timur  Indonesia,di Irian Jaya.(kalo yang fak fak mah saya tau dimana, tapi yang lainya saya liat dihalaman terakhir bukunya kok,bukan karena saya hafal).

Di pedalaman pedalaman yang masih bagian dari NKRI inilah konon para pengajar muda, orang orang yang  terdidik akan berbagi ilmu mereka. Bertemu anak anak SD yang mungkin saja sekolahannya udah hampir ambruk, atau bahkan bukan di kelas tapi di hutan tempat belajarnya, yang mungkin aja jangankan ada proyektor yang biasanya mahasiswa pake buat sarana ngajar, yang ada cuman papan tulis itu aja mungkin masih pake kapur. Tapi, betapa kerennya coba kalo kita bisa di sana, yang gak cuman sekedar jadi guru yang sudah terbiasa sama segala fasilitas fasilitas yang tersedia. Betapa senengnya ketika kita bisa berbagi semangat bahkan mimpi, iya MIMPI, kayak apa yang ada di sang pemimpi:

Bercita citalah yang tinggi, bermimpilah yang besar, reguk madu ilmu sebanyak banyaknya, belajarlah dari alam di sekitarmu,resapi kehidupan,jelajahi Indonesiamu yang luas, jengkali Afrika yang eksotis,jelajahi Eropa yang megah, lalu berhentilah di altar ilmu di Sorbonne Paris. Belajarlah dimana science, sastra dan seni di olah untuk merubah peradapan. Dan ingat yang paling penting, BUKAN SEBERAPA BESAR MIMPI MU, TAPI SEBERAPA BESAR KAMU UNTUK MIMPI ITU.

Akhirul kata: menjadi guru itu mulia, menjadi guru itu wajar, dan adanya guru di pelosok negeri  adalah biasa.
“Mencerdaskan kehidupan bangsa: bersama melunasi janji kemerdekaan”.  Dan bahwasanya pendidikan bukan sekedar program yang yang dijalankan pemerintah, sekolah, dan para guru. Pendidikan adalah gerakan mencerdaskan bangsa yang harus melibatkan semua orang, mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Info lebih lanjut: (sumber: buku Indonesia Mengajar)
Yayasan gerakan Indonesia mengajar
Jln. Galuh II No. 4, kebayoran baru, Jakarta Selatan.
INDONESIA 1211O
Telp                       : +62 -21-72211570     
Faks                       : + 62 – 21 – 7231430
Email                     : info@indonesiamengajar.org
Web                      : http://indonesiamengajar.org
Twitter                 : @pengajarmuda
Facebook            : Indonesia Mengajar

(Buku ini juga sebagai salah satu pegangan saya buat persiapan sebelum menuju dunia per PPL-an).
Saya pernah bicara ke ibuk saya: “buk aku emoh ah dadi guru PPLan menthel, aku ameh dadi guru BERKARAKTER wae ah”.
Ya saat kebanyakan calon PPL an pada sibuk mempersiapkan ini itu untuk kebutuhan out looking mereka, saya lebih tertarik untuk cari cara gimana biar nantinya di tempat PPL, saya gak cuman sekedar di ingat sebagai orang yang berpenampilan menthel  karena persiapan outlooking yang pol polan dan jor joran. Saya pengen nya mereka dengan suka cita belajar Bahasa Inggris, mereka bisa nerima Bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Iya ini sama kayak apa yang pernah ditanyakan ke saya saat tes wawancara di kampus  tempat saya belaar saat ini:
“What is your motivation study here?”
“I just wanna be a good teacher, and make the students are not afraid in learning English”
“saya pengen tau cara ngajar bahasa inggris, biar gak banyak lagi orang yang takut buat belajar Bahasa Inggris,Miss”

Sabtu, 23 Juni 2012

Keep your dream alive and you will survive.



#np: mahadewi-padi

Mataremaja. Lempeng gapit. Hutan jati malang. Uang recehan. Suhartono. Ongis ngalam. www. Masgembul.com. IAN.GENTA.JUPLE.RIANI.RAMBO. Fake plastic trees. Ranu pane. Ranu kumbolo. Edelweiss.tanjakan cinta. MANIKMAYA WASKITO JATI (hehehe). Kalimati. Arcopodo. ARDIAN ADRIANO. Sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Fly me to the moon. You are the universe. Mahadewi. Bendera(coklat). Ingatlah hari ini. INDONESIA RAYA.MAHAMERU 
“yang berani nyela Indonesia,lawan gue” (the most quote I like by IAN). 5cm.

Book oriented person??? YES I AM. Itu semua orientasi saya saat ke sana.

Okay, you may say I’m a dreamer but I’m not the only one (Lennon John, imagine)!
Ada TARI, orang yang dengan selalu senang hati untuk saya ajak bermimpi yang setinggi tingginya.
 Yaps, besar kecil bermimpi itu gratis, kenapa harus takut untuk bermimpi  yang gede sekalian.

But now I have realized that  I haven’t in way there now.  Cause sometimes you have to realistic, there is something that you can’t deny, there is something strange. Yes I feel that, and know it. So, from now on
I keep my dream alive and I will survive.
Tiba saatnya saya menerimanya, karena bukan saat ini waktu buat saya ke sana. OK. Not now, 

BUT SOME DAY. I WILL!!
Sedih ya?  PASTI
*sigh*
yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya.
*tersenyum -ikhlas*


Selasa, 05 Juni 2012

Peringatan hari lingkungan sedunia di lembah mandalawangi-pangrango.



Hari ini hari lingkungan hidup sedunia,kalo taun lalu persis tanggal segini saya berangkat ke Bandung(Pangrango) buat ikut upacara bendera, tapi hari ini saya cuman ongkang ongkang di kosan dan gak ada upacara kayak taun lalu. Ya memang hari lingkungan sedunia itu bukan hari peringatan nasional yang musti ada upacara tiap tahunnya. Jadi pengen me-recall apa aja yang terjadi setaun lalu. Gimana susahnya dapet ijin,desek desekannya pas naik kereta,desperatenya, anjang sana sininya, panas panasannya menuju stasiun, dredeknya liat darah dari batuknya fikri yang mancur kemana mana.
 Udah langsung aja cekidot yok
Ijin orang rumah itu susah didapetnya braii~
Takut gak dapet ijin, saya bilang ke ibuk saya gini: “Buk aku ameh ke Bandung ya,munggah gunung hari lingkungan sedunia,aku perwakilan dari Indonesia.”

Asumsinya adalah: ibuk mana coba yang gak bangga kalo anaknya jadi perwakilan peringatan yang di hadiri orang seluruh didunia. Dengan begini maka izin akan di dapat dengan mudah.

Hasilnya adalah: saya di ijinkan ke Bandung,ya setidaknya selama di keretaa perjalanan dari Semarang-Bandung orang rumah gak nelpon nyuruh saya pulang. Ibuk saya ternyata tanggap juga, baru nyampe di basecamp greenranger, saya ditelpon di suruh pulang. Tapi saya gak mau dong disuruh pulang,mana berani saya pulang sendirian ke Semarang, lagipula kalo saya pulang sementara yang lain tetep disana, dimana rasa solider saya coba??

Di kereta Jogja – Bogor
Loh kok dari Jogja naik keretanya? Iya biar murah katanya,saya mah ikut aja gak mudeng soal tarif kereta begituan. Naik kereta ekonomi dengan bawaan tas kerir yang gede itu repot sekali,untung saya bawanya daypack. Iya dari Jogja sampai hampir nyampe Bogor kita berdiri di kereta, bukan di gerbong penumpang,tapi di bagian kantinnya,sempit banget tempatnya ada yang mabuk pula,ppfftt sekali pokoknya waktu itu. Tapi ya santai aja,gak merasa serem,kan bareng kakak kakak EGP perginya, ya mana mungkin saya dibiarkan sendirian di kereta embelesek itu,gak mungkinlah,waktu saya gak kuat bawa tas aja tas saya dibawain. Oya, ada jajanan yang uenak banget waktu di kereta namanya bacang,ini semacam arem arem kalo di Semarang,murah seribuan isinya daging,mungkin daging tikus lawes murah banget sih,disini mah seribu paling pol isi ndok puyuh itu aja separo.

Perjalanan menuju puncak
Sampai di base camp green ranger udah sorean, eh ternyata ketemu anak UNNES juga di sana,cuman dari jurusan Biologi sih. Ada Mas Gembot alias Mas Ruby(em) alias Mas Ruby Alfian, mahasiswa semester 12 yang suka bawa GPS kemana nama,saya kira dulu itu Mas Rubiyem lagi dolanan tetris di gembot tapi ternyata yang dipegang itu GPS,  itu sebabnya kenapa dia di sebut mas gembot,dia juga pria  yang suka menjaga kebersihan wajahnya sekalipun itu di gunung. Ada Fikri,dia anak baik baik dan rajin beribadah,selama naik gunung dia solatnya gak pernah ketinggalan Fikri  adalah calon imam keluarga yang ideal loh. Ada Pak Abdul juga,Beliau adalah dosen muda di Jurusan Biologi,Pak Abdul ini tingginya sekilak lebih tinngi dibandingkan saya,beneran saya gak bohong. Kita akhirnya bergabung menjadi TEAM COLEKK DARI SEMARANG dengan jumlah anggota 11 orang. Perjalanan menuju basecamp kandang badak dimulai jam 8 malem dan tiba jam….saya lupa jam berapa nyampenya pokoknya lama bangetlah,jalanya nanjak terus gak ada bonus tracknya sama sekali,apalagi jalan turunan boro boro deh. Di sinilah kita menikmati kebahagian dengan berkaraoke bersama di dalam tenda, gak berasa dingin sama sekali malam itu,itulah yang namanya kebersaaman, setebal atau semahal apapun jaket yang loe pake itu gak bisa menghangatkan kita sehangat kebersaamaan sewaktu di gunung. Perjalanan ke puncak dilakukan setelah kita ngecamp sehari di basecamp kandang badak, perjalanan ke puncak Pangrango gak terlalu berat dan lama. Puncak Pangrango ternyata sempit, jadi kta ngecamp nya di Mandalawangi,ini tempat WOW sekali,padang edelweiss man,kanan kirinya isinya edelweiss semua.

 Turun gunung
Tibalah saat nya kita meninggalkan Mandalawangi,kita Team Colekk Semarang harus pulang. Jalur yang dilewati pulang sama kayak waktu naik,cuman bedanya waktu naik tracknya nanjak semua  waktu pulang isinya turunan semua. Waktu perjalanan turun gunung ini Pak Abdul ternyata terserang masuk angin duduk, semacam masuk angin yang datang tiba tiba dan di perut sakit banget kalo buat jalan. Bawa tas aja gak kuat,akhirnya dibantu lah sama Mbak Asih untuk membawa tas nya. Kita tiba dengan selamat dan ceria di basecamp green ranger,tempat singgah pertama kita. Dan tibalah saat yang berbahagia yakni makan bersama dan itu gratisan,iya yang bayar waktu itu Pak Abdul semua. Itu kenapa aku sering ngerasa banyak orang baik di gunung,ya seperti pak abdul inilah contohnya.

Pulang ,di kereta,menuju stasiun bandung.
Naik kereta lagi deh,yang ini malah murah banget tiketnya,cuman bayar seribu dari stasiun…..(lupa namanya) sampai stasiun Bandung. Mungkin gara gara bayar seribu inilah batuknya Fikri jadi bocor,ya di dalem kereta yang udah gak ada kaca jendelanya itulah saya menyaksikan batuknya Fikri berdarah darah karena kena lemparan kerikil. Gimana ceritanya coba di dalem kereta bisa kena lemparan kerikil? Nah itu dia, ternyata tontonan yang biasanya saya liat di tivi soal supporter bola yang suka lempar lempar kerikil ke kereta itu beneran ada, tapi yang ini gak tau supporter atau bukan yang nglempar,semuanya begitu cepat dan entah siapa pelakunya tak juga diketahui. Penumpang yang lain pada ribut,nyuruh ini itu,nyuruh di kasih ini itu,nyuruh inget inget tadi di daerah mana waktu kejadian,nyuruh kita lapor ke bagian (lupa lagi namanya) setelah nyampe stasiun. Oke ditengah kehebohan penumpang tadi saya dan Mbak Asih cuman bisa mewek,iya ngeri dan kasian liat darahnya gak berhenti berhenti,mana si fikri juga diem aja,gak nangis atau apa gitu, jadi tambah takut kalo dia nanti sampe kehabisan darah sementara perjalanan sampai ke stasiun kayaknya masih lama. Sampe di stasiun kita langsung menuju kebagian asuransi(saya inget akhirnya)di stasiun Bandung,karena di tiket emang ada tulisannya tentang asuransi. Ya tapi, taulah…masak cuman bayar seribu perak mau minta asuransi macem macem. Petugas asuransi nya itu gak ramah banget dan ternyata gak punya obat obatan yang layak, dibanding sama kotak P3K bawaan kita mah gak ada apa apanya. Setelah mendapat pelayanan yang gak ramah tadi,Sie Fikri kita obati dengan obat yang kita punya dan alhamdulilah darahnya berhenti keluar. 

The most unforgettable moment, UPACARA BENDERA!
Jaman sekolah dulu upacara itu panas dan malesi, di tengah lapangan panas panasan, dengerin Indonesia Raya nya juga sambil lalu, hormat ke bendera nya juga semau mau guweh.
Tapi….
UPACARA BENDERA. DI ATAS GUNUNG. DENGER LAGU INDONESIA RAYA. HORMAT KEPADA MERAH PUTIH. 

Itu….BERASA ADEM DAN

JADI SEMAKIN CINTA SAMA INDONESIA, CINTA ALAMNYA JUGA, BANGGA KITA BISA DIKASIH ALAM YANG SEINDAH SURGA.
INILAH INDONESIA BESERTA ALAMNYA DAN SEISINYA. DAN KAMI BANGGA!!

ini beda gak kayak waktu jaman upacara di sekolah 



peserta upacara,ini orang Indonesia semua




kami EGP di puncak pangrango,tugu ijo di belakang itu lah simbol puncaknya

dari kiri: mas ikbal,kakak anam,mas dani,ijul,kakak anam,mbak asih,pak abdul,patriya,brastha,fikri,mas rubi(yem)

mas rubby bukak salon di gunung




Minggu, 03 Juni 2012

TASK CORNER. FOR MY FINAL LTT

This is the material for class 7B, today and for 2 weeks later a can't attend the class, so read the material and do the task.
get the material here

Senin, 23 April 2012

Malam Ini Adalah Malam Penentuan;Perjalanan ke Timur


Malam ini rencananya mau berdiskusi dengan Adri dan Sitari untuk menentukan mau memilih perjalan ke barat atau ke timur. Keduanya punya lebih masing masing, tapi aku sih lebih pengen perjalanan ke timur dengan naik kereta yang didalem kereta banyak bakul jajanan nya.

ini buat perjalanan ke timur



ATAU MAU PILIH YANG LAIN


ini buat perjalanan ke barat






















Sabtu, 21 April 2012

Naik naik ke Puncak Gunung Sumbing,Tapi Gak Sampai Puncak



#PART1
Ada long weekend lagi di bulan april, biar tidak mubadzir di manfaatkan buat naik gunung saja. Kebetulan juga sedang banyak hal yang bikin hati nyesek dan gununglah tempat yang cocok buat ngilangin rasa nyesek itu. Dari awal rencana berangkat bareng bareng berenam naik bis, akhirnya cuman berdua yang naik bis sisanya naik motor. It doesn’t matter lah, ntar juga bakal ketemu di base camp juga, mau beda cara kesananya  kalo emang udah kudu ketemu entar juga bakal ketemu. Enam enamnya udah berkumpul dan siap untuk mendaki, dan mendadak dapat kabar kalau GUNUNG SINDORO DI TUTUP, dengan alasan sindoro masih dalam status waspada ditakutkan masih ada gas beracun di puncaknya kata penjaga basecampnya. Udah jauh jauh naik bis masak mau nyerah gitu aja cuman gara gara dikasih tau sindoro ditutup. Disinilah peranan dari “pantang nyerah atau realistis” terhadap  keadaan di uji coba. Kamu mau realistis buat nyerah dan gak jadi naik sindoro karena kemungkinan gas beracun tadi atau kamu mau tetep kekeuh buat naik, karena gas beracun itu adanya cuman di atas jam sepuluh pagi jadi aman semisal kita waktu sunrise udah dipuncak terus jam delapan paginya turun lagi. Atau kalau mau ada pilihan ketiga yaitu, tetep naik gunung tapi pindah ke gunung sumbing. 

                                                 formasi awal waktu mau naik gunung sumbing

Jam 5 sore kita mulai naik, lima dari enam anak ini gak ada yang pernah naik ke sumbing dan jadilah kita nyasar. Jalan di gunung itu sama isinya kanan kiri pohon semua, padahal udah dikasih peta sama penjaga basecamp tapi tidak banyak membantu. Jadilah beneran kita nyasar di tengah hutan antah baratah magrib magrib pula pas kesasar, ya gakpapa karena waktu itu bareng bareng berenam, jadi gak berasa takut sama sekali. Tapi tetep aja di saat seperti inilah “ego tiap anak muncul”.  Ada yang pengen turun lagi ke basecamp takut tambah nyasar jauh, ada yang pengen diberhentiin bentar nunggu waktu magribnya selesai biar pikiran agak adem dulu, ada yang pengen kekeuh nerusin  jalan dengan alesan gak mau buang buang waktu keburu malem, ada juga yang cuman bisa manut karena udah ada leadernya jadi cukup percaya aja sama leader  mau gimana ya ayo aja. Setelah berusaha buat nyari jalan biar bisa kembali ke jalur yang bener ternyata gak ada hasilnya, karena memang dari jalan awal udah salah jalur, yang seharusnya lewat jalur baru ini malah lewat jalur lama yang emang mungkin udah gak pernah dipakai pendaki lainya. Akhirnya kita putuskan untuk briefing dan berhenti sebentar, dan gak lama ada segerombolan orang yang ternyata juga nyasar. 
Oke perjalanan dilanjutkan bersama yang nyasar tadi,jadi rame banget akhirnya gerombolannya.  Kebetulan banget malam itu lagi ada supermoon, jarang jarang bisa liat bulan dalam bentuk sempurna dan sinarnya yang terang banget. Terangnya senter gak ada apa apanya dibandingkan sama yang satu ini,jadi gak masalah waktu itu lupa bawa senter juga.

 "BERBAGI WAKTU DENGAN ALAM MAKA KAU AKAN TAHU SIAPA DIRIMU YANG SEBENERNYA" karena kalau lagi naik gunung semua sifat orang kelihatan jelas,

Rabu, 11 April 2012

Communicative competence

Communicative competence is a concept introduced by Dell Hymes and discussed and redefined by many authors. Hymes' original idea was that speakers of a language have to have more than grammatical competence in order to be able communicate effectively in a language; they also need to know how language is used by members of a speech community to accomplish their purposes.

The modules in this section identify eight aspects of communicative competence. They are grouped together in two groups of four:


Linguistic aspects
  • Phonology and orthography
Phonological competence is the ability to recognize and produce the distinctive meaningful sounds of a language, including:
Consonants, vowels, tone patterns, intonation, patterns, rhythm patterns, stress patterns    , any other supra segmental features that carry meaning
Related to phonological competence is orthographic competence, or the ability to decipher and write the writing system of a language. 
Example  
In Korean there are three kinds of velar stops: aspirated, fortis and lenis. It is important to be able to distinguish these sounds, because there are a number of different words that are pronounced the same, except for the difference in these stops. It is also important to be able to pronounce these consonants correctly so that Korean speakers can tell which word the language learner means.
  • Grammar
Grammatical competence is the ability to recognize and produce the distinctive grammatical structures of a language and to use them effectively in communication.
Example
Learners of French need to learn to understand the different time references of sets of words such as je partais, je parte, je parterai, and to be able to make appropriate time reference when speaking or writing.

  • Vocabulary
Lexical competence is the ability to recognize and use words in a language in the way that speakers of the language use them. Lexical competence includes understanding the different relationships among families of words and the common collocations of words.
Example  
Learners learning English need to be able to recognize the concept of chair and what makes it different from a stool, a sofa, or a bench. They also need to know that a chair is a piece of furniture, and that there are various kinds of chairs, including easy chairs, deck chairs, office chairs, rocking chairs and so on. They also need to understand how chair is now used in an extended sense for what used to be termed a chairman, especially when referring to a woman, as in Julie Wright is the chair of the committee. 

  • Discourse (textual)
Discourse competence is used to refer to two related, but distinct abilities. Textual discourse competence refers to the ability to understand and construct monologues or written texts of different genres, such as narratives, procedural texts, expository texts, persuasive (hortatory) texts, descriptions and others. These discourse genres have different characteristics, but in each genre there are some elements that help make the text coherent, and other elements which are used to make important points distinctive or prominent.
Learning a language involves learning how to relate these different types of discourse in such a way that hearers or readers can understand what is going on and see what is important. Likewise it involves being able to relate information in a way that is coherent to the readers and hearers.

 
  Pragmatic aspects
  • Functions
Functional competence refers to the ability to accomplish communication purposes in a language. There are a number of different kinds of purposes for which people commonly use language.
Examples  
Greeting people is one purpose for which we use language. What we actually say in English could be Good morning, Hi, How ya doin, or Yo, depending on who we are and who we are talking to.

  • Variations
Sociolinguistic competence is the ability to interpret the social meaning of the choice of linguistic varieties and to use language with the appropriate social meaning for the communication situation.
Examples  
When greeting someone in a very formal situation an American might say, Hello, how are you? or Nice to see you again, but if he were meeting a friend in an informal situation it would be much more appropriate to say Hi, or Hey, whatcha been doing?

  • Interactional skills
Interactional competence involves knowing and using the mostly-unwritten rules for interaction in various communication situations within a given speech community and culture. It includes, among other things, knowing how to initiate and manage conversations and negotiate meaning with other people. It also includes knowing what sorts of body language, eye contact, and proximity to other people are appropriate, and acting accordingly. 
Examples  
A conversation with a checker at the check-out line in a grocery store in the US or England shouldn't be very personal or protracted, as the purpose of the conversation is mainly a business transaction and it would be considered inappropriate to make the people further back in the queue wait while a customer and the checker have a social conversation. Other cultures have different rules of interaction in a market transaction.

  • Cultural framework
Cultural competence is the ability to understand behavior from the standpoint of the members of a culture and and to behave in a way that would be understood by the members of the culture in the intended way. Cultural competence therefore involves understanding all aspects of a culture, but particularly the social structure, the values and beliefs of the people, and the way things are assumed to be done.
Examples  
It is impossible to speak Korean or Japanese correctly without understanding the social structure of the respective societies, because that structure is reflected in the endings of words and the terms of address and reference that must be used when speaking to or about other people.